Pantai Ramai Wisatawan, Tukang Sewa Ban Pun Panen

tukang sewa ban laris masnisKARAWANG (MGO) – Bagi tukang sewa ban hadirnya ribuan wisatawan memadati tempat wisata sepanjang Pantai Cibendo-Ciparage, Tempuran Karawang menjadi kesempatan untuk meraih uang banyak. Pasalnya ban-ban yang mereka jajakan tidak ada yang nyisa, alias laris.
Tampak para pengunjung yang sengaja guna menikamti liburan pergantian tahun, bukan saja pedagang makanan dan minuman ringan yang kebanjiran rejeki. Namun para penyewa ban pun turut meraup keuntungan.

seperti dikatakan pemilik sewa ban, Samsudin (37) warga Desa Ciparage, ini mengaku cukup beruntung memanfaatkan momen tahunan ini dengan menyewakan ban di Pantai Cibendo. Dengan sewa seharga Rp 5.000 , Samsudin mengaku dapat  menyewakan bannya dalam jumlah yang cukup banyak kepada wisatawan.

“Kalau liburan biasa paling banyak 10 ban. Tapi kalau di liburan pergantian tahun bisa 25 ban tersewa. Biasanya wisatawan yang nyewa ban paling satu jam pakenya. Satu ban sehari bisa kesewa 3 kali,” ujar pria yang mengaku sudah 4 tahun menyewakan ban di Pantai Cibendo. Kemarin bahkan hingga berita ini ditayangkan mereka masih meladeni sewa ban.

Hal serupa juga dialami, satu rekan Samsudin, yakni Duloh (25) warga Ciparage. Ia mengaku dari 10 ban yang dimilikinya, ban itu bisa laris disewa 2 hingga 3 kali per satu ban oleh wisatawan yang mandi di laut. Wawan pun mengaku cukup senang dapat mengantongi uang hasil usahanya itu bisa sampai Rp.100 ribu.

“Alhamdulillah dapet rejeki tahunan. Lumayanlah bisa nambah biaya dapur dan jajan anak-anak. Kalau PantaiCibendor setiap liburan ramainya seperti ini, enak juga yah,” ujar bapak yang mengaku memiliki 2 anak itu. Keduanya mengaku tidak akan pulang sebelum matahari terbenam.(*).

 

Bangun Pondasi, Kades Jatiragas Hilir Memulai Babad Sedjarah Jati Rangkas

SUBANG (MGO) – Kepala Desa Jatiragas Hlilir (dulu Jati Rangkas) bareng masyarakatnya membangun pondasi bakal saung sedjarah yang akan menaungi pohon jati yang telah baratus-ratus tahun lamanya masih berdiri tegak ditempat asalnya.

Dalam aktifitas tersebut Kepala Desa Jatiragas Hilir, Suhaya kerja bareng masyarakat membangun bangunan awal berupa pondasi saung sedjarah diareal persawahan milik H.Subhi dan H.Samah seluas sekitar dua are di Dusun Krajan Rt.05/02 Desa Jatiragas Hilir Kecamatan Patokbeusi, Subang Jawabarat.

Kedua petani tersebut dengan sukarela menghibahkan dua petak sawahnya kepada pemerintah Desa Jatiragas Hilir. Dalam kegiatan tersebut masyarakat dan Kepala Desa Jati Rangkas (sekarang Jatiragas Hilir) telah membangun pondasi yang nantinya akan dijadikan sebuah gedung monument situs pohon jati.

Menurut H.Subhi telah dibangun pondasi Jum’át (21-11-2011) dan kini mandeg karena belum ada anggarannya untuk meneruskan bangunan tersebut. Rencananya, diteruskan Subhi, dibuat pondasi tersebut akan dijadikan sebuah gedung monument Jati Rangkas yang kelak lokasi itu tidak habis dimakan jaman.

Perlunya tempat ini dibangun monument atau saung sedjarah, diharapkan Subhi, agar pohon Jati Rangkas sebagai ikhwal nama Desa Jati Ragas yang sekarang berada di Kecamatan Banyu Sari, Kabupaten Karawang, dan di daerahnya sendiri menjadi Desa Jati Ragas Hilir.

“Kami berdua rela memberikan sawah kami, karena diatas sawah kami ada sebuah pohon Jati Rangkas (Jati Ragas) yang perlu diabadikan agar sedjarah wilayah ini tetap dikenang anak cucu kami,”jelas Subhi.

Kepala Desa Jatiragas Hilir, Suhaya membenarkan jika ditempat tersebut ada sebuah pohon jati yang merupakan sedjarah nama Desa Jati Ragas yang ada di Kecamatan Banyusari, Karawang. Sedangkan didaerah asalnya nama Desanya dinamakan Desa Jati Ragas Hilir masuk ke Kecamatan Patokbeusi, Subang.

Disinggung rencana pembangunan monument untuk dijadikan situs Jati Rangkas, yang kini baru berdiri bangunan pondasi, Kades menjawab, pihaknya dan masyarakat baru bisa membangun pondasinya saja selanjutnya agar pemda Subang bisa meneruskan rencana pembanbagunan ini, atau paling tidak Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Subang mau peduli atas adanya situs Jati Rangkas yang umurnya telah ratusan tahun meskipun pohonnya tidak berdaun namun masih tetap utuh berdiri tegak layaknya pohon hidup berdaun.

“Saya dan masyarakat Jati Ragas Hilir mengharapkan sekali pemkab Subang untuk meneruskan rencana pembangunan monument ini sebagai salah satu situs sedjarah di Desa kami,”jelas Kades.(*).

 

Bumerang Semarang Muncul di Subang

BumerangSUBANG (MGO) - Bumerang unik ditemukan pada sebuah paket kiriman Pos Kilat Khusus dari Semarang tujuan Subang namun Bumerang tersebut berbeda dengan yang lain, Bumerang ini berbentuk Kujang, senjata khas Etnik Sunda. Diterima Senin (5/12/2011). Dijelaskan penerimanya Tedi Widara (39) yang juga koresponden Media Gival Onlin.com, ternyata Kujang yang terbuat dari pertinax setebal 3 mm tersebut merupakan bumerang oleh penerimanya langsung dicoba di lapang alun-alun. Dilempar dan bisa kembali pada pelemparnya walau pun tidak baca mantra-mantra. Setelah diperhatikan Bumerang berbentuk Kujang ini perpaduan unik antara bentuk kujang dengan fungsi bumerang. Tetapi sport boomerang (bumerang olahraga), “Saya suka bentuknya,” ujarnya. Keunikan ini kata Teddy salah satu inovasi yang perlu diapresiasi dengan baik sebagai bahasa universal yang ditampilkan oleh seorang insinyur yang berrjiwa seni. Perpaduan antara Bentuk Kujang dengan Fungsi Bumerang sesuai catatan yang tertulis pada Wikipedia, Kujang adalah sebuah senjata unik dari daerah Jawa Barat yang dibuat pertama kali sekitar abad ke-8 atau ke-9, terbuat dari besi, baja dan bahan pamor, panjangnya sekitar 20 sampai 25 cm dan beratnya sekitar 300 gram. Kujang juga merupakan perkakas yang merefleksikan ketajaman dan daya kritis dalam kehidupan juga melambangkan kekuatan dan keberanian untuk melindungi hak dan kebenaran. Menjadi ciri khas, baik sebagai senjata, alat pertanian, perlambang, hiasan, ataupun cindera mata. Masih kata Tedi, menurut Sanghyang Siksakanda ng karesian pupuh XVII, kujang adalah senjata kaum petani dan memiliki akar pada budaya pertanian masyarakat Sunda. Sedangkan bumerang, masih menurut Wikipedia, ialah senjata khas suku Aborigin di Australia yang kalau dilempar bisa kembali lagi. Gerakan bumerang adalah kombinasi translasi dan rotasi mirip dengan bilah helikopter. “Awalnya kegunaan bumerang adalah sebagai alat untuk berburu. Kemudian pada perkembangannya fungsi berburu berubah menjadi kesenangan dan olahraga,”ucapnya. Budaya dan seni, kata Teddy, adalah bahasa lokal yang mempertemukan umat manusia melalui kebutuhan dengan rasanya. Ini pun yang terjadi pada bumerang. Berkat sentuhan Ir. Haryo Pangarso, Sang Master sekaligus pengrajin Bumerang asal Semarang. Sentuhan seni dan kemampuan membuat bumerang melahirkan Bumerang dengan bentuk kujang yang unik.(*).

 
                  

Berita Terbaru

Kapolsek Purwadadi Pimpin Upacara Hari Pahlawan Kapolsek Purwadadi Pimpin Upacara Hari Pahlawan SUBANG (MGO) - Kapolsek Purwadadi Kab.Subang, Kompol Supratman S.sos memimpin langsung upacara peringatan Hari Pahlawan Nasiona...
759 Anggota PPS Diambil Sumpah 759 Anggota PPS Diambil Sumpah SUBANG (MGO) – Sebanyak 759 anggota Panitia Pemungutan Suara (PPS) dari 253 desa dan kelurahan di Kabupaten Subang dilant...
Bupati : Wadah Nelayan PNTI Bupati : Wadah Nelayan PNTI SUBANG (MGO) – Bupati Subang, Imasa Aryumningsih menyatakan nelayan memiliki wadah dan media untuk menyalurkan keluhan se...
Fungsi BPD Bukan Oposisi Kepala Desa Fungsi BPD Bukan Oposisi Kepala Desa SUBANG (MGO) - Fungsi BPD di Kabupaten Subang bukan merupakan opsisi Kepala Desa (Kades) akan tetapi inovasinya untuk mengelola...
PT.Saneka Kontraktor Drainase Tertutup Bagi Publik PT.Saneka Kontraktor Drainase Tertutup Bagi Publik PANTURA (MGO) - Kontraktor PT.Saneka yang mengerjakan proyek Drainase Cikampek-Sukamandi terkesan tertutup bagi publik.Pasalnya...