Jalan Provinsi Rusak Lagi, Siapa Yang Salah, dan Siapa Yang Bertanggungjawab

      SUBANG (MGO) - Berkaitan dengan pekerjaan jalan Rijit Kalijati-Sukamandi, Subang, yang kini mulai rusak retak patah siapa yang akan bertanggungjawab dan siapa yang mesti disalahkan, kontraktor, pelaksana teknis, konsultan pengawas atau Bina Marga dan Pengairan (Bimair) Provinsi Jawabarat.

      Sesuai dengan hasil investigasi MGO, bahwa hasil pekerjaan peningkatan jalan rijit yang dibangun pada sekira bulan Juni tahun 2011 paket 1 jalan Kaljati-Sukamandi yang didanai oleh APBD Provinsi Jawabarat yang dialokasikan mulai dari depan PG.Rajawali sampai dengan batas pekerjaan jalan rijit oleh pemda Subang di dekat jembatan Jon Purwadadi, Subang, Jawabarat yang telah lama rusak cukup berat, yang mana bagian lapisan jalan yang dibangun menggunakan material redimik alias jalan rijit sebagiannya mulai retak cukup lebar dan bahkan bisa dikatakan patah-patah.

      Menurut Ketua Umum Ormas Gival, Pirdaus B.Ns. dengan hal tersebut diatas siapa yang akan dilsalahkan dan siapa pula yang akan bertanggungjawab. Mestikah masyarakat menyalahkan kontraktor, pelaksana teknis, konsultan pengawas, tim FHO atau Bina Marga dan Pengairan (Bimair) Provinsi Jawabarat, . Kalau kontraktor yang disalahkan disana pastinya ada petugas pelaksana teknis dari Bimair Provinsi, ada pula Konsultan Pengawas Mitra Bimair Provinsi, dan apa yang dicek oleh tim FHO tidak terkontrol pada saat melakukan kroscek kelayakan pekerjaan sebelum diresmikan atau diterima pekerjaannya.

      "Saran Saya jangan saling menyalahkan, namun sekarang siapa yang akan bertanggungjawab. Dan Saya sarankan kontraktorlah yang mesti bertanggungjawab, karena apabila Bimair Provinsi yang bertanggungjawab atas kerusakan jalan tersebut berarti uang rakyat akan sia-sia dua kali,"jelas Pirdaus B.Ns. yang akrab dipanggil Dauscobra.

      Diharapkan, dilanjutkan Dauscobra, pihak Bimair Provinsi harus mendesak kontraktor untuk membongkar dan memperbaiki jalan yang rusak tersebut, karena gara-gara pekerjaan kontraktor yang terkesan asal jadi tidak terkontrol dengan baik oleh pelaksana teknis dan konsultan pengawas."Jangan sampai Bimair mengeluarkan anggaran dua kali untuk memperbaikinya, karena proses pelaksanaan yang salah tapi tidak terkontrol, jika Bimair tidak bisa menekan kontraktor untuk memperbaiki jalan tersebut Kami siap lapor resmi kepada Inspektorat, BPKP, Gubernur dan Kejati Jabar agar para pihak yang bermain bisa diadili seadil-adilnya,"ujar Dauscobra.

      Kondisi dilapangan, ditambahkan Dauscobra, pada saat pekerjaan mulai dilaksanakan, yakni dalam pekerjaan pelebaran kiri-kanan jalan tidak menggunakan batu belah yang layak, namun para pekerja hanya menggunakan batu belah seadanya hasil mengutil dari batu beskos yang dijadikan bahan material lapeling. Selain tidak menggunakan batu belah yang cukup dan layak, juga kontraktor dalam melakukan pemadatan lapeling tidak dilakukan dengan optimal sehingga lokasi jalan yang bolong-bolong kecil dan cukup lebar menjadi tidak padat yang ahirnya ketika dipasang rijit menjadi patah seperti yang terjadi saat ini. Selain material lapeling, pemadatan tidak dilakukan dengan pembasahan yang baik, juga terjadi pengurangan pemasangan besi behel yang dipasang sebagai dowel tidak terpasang dengan cukup dan diduga tidak sesuai dengan bestek.

      "Saya melihat sendiri, kontraktor tidak menyediakan batu belah sehingga bibir jalan jalan menjadi kurang kuat karena tidak dipasang batu belah yang cukup, pemadatan lapeling yang menggunakan beskos selain kurang dalam hitungan gilasan juga tidak adanya pembasahan beskos. Pun besi dowel tidak sama jaraknya, ada yang berjarak 60 centi meter sampai dengan dua meter, atau memang seperti itu besteknya,"ucap Dauscobra.

      Bahkan ditambahkan Dauscobra, pada pelaksanaan pekerjaan jalan rijit paket 2 dijalur yang sama sejak 6 bulan paskan pekerjaan selesai dititik jalan depan SDN Rancabango telah mengalami keretakan cukup parah yang kini telah ditutupi oleh lapisan Hotmik, pun mulai terjadi perubahan badan jalan bergelombang."Sejak lama Saya meminta untuk dibongkar ulang namun tidak ada yang dengar, Saya sebagai bagian dari rakyat mengharapkan para pihak untuk menegur kontraktor dan pihak terkain yang telah menyia-nyiakan uang rakyat dengan pekerjaan yang asal jadi dan menyahi bestek,"tambahnya.(*).

        • Dibaca: 848 kali

        TCE-Plugin by www.teglo.info

         
                          

        Berita Terbaru

        Kapolsek Purwadadi Pimpin Upacara Hari Pahlawan Kapolsek Purwadadi Pimpin Upacara Hari Pahlawan SUBANG (MGO) - Kapolsek Purwadadi Kab.Subang, Kompol Supratman S.sos memimpin langsung upacara peringatan Hari Pahlawan Nasiona...
        759 Anggota PPS Diambil Sumpah 759 Anggota PPS Diambil Sumpah SUBANG (MGO) – Sebanyak 759 anggota Panitia Pemungutan Suara (PPS) dari 253 desa dan kelurahan di Kabupaten Subang dilant...
        Bupati : Wadah Nelayan PNTI Bupati : Wadah Nelayan PNTI SUBANG (MGO) – Bupati Subang, Imasa Aryumningsih menyatakan nelayan memiliki wadah dan media untuk menyalurkan keluhan se...
        Fungsi BPD Bukan Oposisi Kepala Desa Fungsi BPD Bukan Oposisi Kepala Desa SUBANG (MGO) - Fungsi BPD di Kabupaten Subang bukan merupakan opsisi Kepala Desa (Kades) akan tetapi inovasinya untuk mengelola...
        PT.Saneka Kontraktor Drainase Tertutup Bagi Publik PT.Saneka Kontraktor Drainase Tertutup Bagi Publik PANTURA (MGO) - Kontraktor PT.Saneka yang mengerjakan proyek Drainase Cikampek-Sukamandi terkesan tertutup bagi publik.Pasalnya...