Bendung Barugbug Penyebar Air Berlimbah

KARAWANG  – Diduga kuat Bendung Barugbug Jatisari Karawang sebagai penyebar air berlimbah berwarna hitam pekat dan bau menyengat, pasalnya Bendung Barugbug yang menampung air kotor berlimbah kemudian untuk memasok air ke saluran irigasi dan saluran sekunder kesejumlah sawah yang ada diwilayah Kabupaten Karawang dan Kabupaten Subang, jawabarat.


Hal tersebut diketahui setelah tim Investigasi LSM Gival menelusuri saluran Irigasi (SI) Banggala yang hulunya ke Bendung Barugbug. Seperti air berbusa berwarna hitam pekat dan bau menyengat di pintu bagi Tanjungrasa Desa Tanjungrasa Kidul dipasok airnya dari Pintu bagi SI Banggala berada di RT.01/06 Desa Barugbug Jatisari, Pintu bagi SI Banggala tersebut dipasok dari Bendung Barugbug yang jelas jelas airnya berwarna hitam pekat dan bau menyengat ketika menghisap airnya akan terasa pengap dan perut mual.


Sejumlah masyarakat yang berhasil di konfirmasi, baik yang ada di Pintu Bagi Tanjungrasa, pintu bagi Banggala, pintu bagi Situ Dam dan disekitaran Bendungan Barugbug,mereka mengeluhkan hal yang sama, bahwa adanya air kotor hitam pekat berbusa, bau menyengat yang bikin pengap menyesakan dada kadang bikin perut mual yang mungkin akan berakibat fatal pada kesehatan, walau faktanya belum ada pihak kesehatan yang datang mengunjungi masyarakat yang berada disepanjang saluran irigasi yang tercemar air berlimbah.


"Air berlimbah tersebut  berlangsung sekira 2-4 tahun, dan saat ini air limbah paling parah, bahkan masyarakat disini dan sejumlah LSM pernah demo ke pemprov Jabar, akan tetapi tetap saja tidak digubris, dugaan kami sih limbah tersebut kalau tidak dari PCP,Papertex, ya mungkin dari pabrik kertas San Fu yang ada di Parung Purwakarta,"ujar masyarakat yang minta namanya tidak ditulis.


Adapun Bendung Barugbug berada di Desa Situ Dam Kec.Jatisari Kab.Karawang diduga sebagai penyebar air berlimbah, terbukti dilapangan bahwa Bendung Barugbug yang berdiri sejak tahun 1949 bisa mengairi sawah sekira 2.926 Ha, sumber air dari Sungai Cilamaya (arah ke perbatasan Subang Purwakarta, yakni di kecamatan Cipeundeuy Subang dan Kecamatan Cibatu Purwakarta) dan Sungai Ciherang arah Tanjung Garut Purwakarta.


Fakta dilapangan Sungai Cilamaya yang pasokan air yang hulunya dari sekitaran Perbatasan Subang-Purwakarta, mengalirkan air yang airnya benar-benar hitam pekat dan bau menyengat, sedangkan air yang mengalir dari sungai Ciherang airnya cukup bening kecuali sekira 100 meter dari bendung Barugbug hitam karena telah bercampur dengan air yang mengalir dari sungai Cilamaya.


Setelah tertampung di bendung Barugbug kemudian dialirkan untuk mengairi sawah melalui SI.Banggala yang akan mengairi sawah ke wilayah Kec.Patokbeusi Kab.Subang yang luasnya sekira 2.122 Ha. Air disalurkan bendung Barugbug melalui pintu bagi SI.Banggala mengalir ke pintu bagi SI.Banggala yang ada di RT.01/06 Desa Barugbug Kec.Jatisari yang kemudian mengalir ke pintu bagi Tanjungrasa Desa Tanjungrasa Kidul Kecamatan Patokbeusi.
Di pintu bagi tersebut airnya berwarna hitam pekat dan berbusa, mengeluarkan bau menyengat, kata masyarakat bau tersebut menyesakan dada, dan kadang kalau sedang tubuh tak stabil bikin mual ke perut.


Pintu bagi yang lain, yakni pintu bagi dari bendung Barugbug yang lurus melalui SI.Kembang yang dialirkan ke pintu bagi Sungapan yang ada di Dusun Kaliwaru Desa Situ Dam Kec.Jatisari Kab.Karawang, mengairi sawah diterdiri dari luas area sekira  767 Ha, berada disekitaran Kecamtan Jatisari, dilokasi ini air dialirkan melalui saluran sekunder Kembang, saluran pembuang Pasangrahan, saluran pembuang Kaliwaru, ada pula yang disalurkan ke sekunder yang mengarah ke permukiman masyarakat yang namanya belum diketahui.


Disekitar pintu bagi Kaliwaru ini, kondisi airnya berwarna hitam pekat dan berbusa, mengeluarkan bau menyengat, kata masyarakat bau tersebut menyesakan dada, dan kadang kalau sedang tubuh tak stabil bikin mual ke perut, masyarakat sekitaran pintu bagi ini mengeluhkan air campur limbah tersebut terjadi 2-4 tahun belakangan ini, bahkan sejumlah pedagang toko setiap hari memakai masker karena tidak kuat dengan baunya air saluran tersebut.


Yang paling menghawatirkan adalah adanya ratusan siswa SDN.Situm Dam I yang menghirup langsung air berlimbah,karena lokasi sekolah tersebut menghadap langsung ke saluran pembuang Kaliwaru sehingga dengan hanya berjarak 10 meter dari saluran ke lingkungan sekolah yang dipastikan bau menyengat tersebut mengganggu pernapasan para guru dan siswa SDN.I Situ Dam.


Bahkan menurut informasi yang dapat dipercaya kebenarannya, bahwa SDN.Situ Dam I telah didatangi oleh tim UPTD Puskesmas Jatisari untuk meninjau keberadaan guru dan siswa sekolah tersebut yang terkena dampak langsung bau air berlimbah.


Sayangnya ketika tim investigasi LSM Gival akan menemui Kepala sekolah,guru atau mengkonfirmasi siswa sekolah, namun disekolah tidak ada siapapun karena tim datang kelokasi kisaran pada pukul 14.25 Wib., sehingga disekolah sudah tidak ada siapapun.


Demikian pula ketika tim menemui Kepala Desa Situ Dam yang rumahnya tidak jauh dari pintu bagi Kaliwaru, ternyata Kepala Desa Situ Dam diketahui bernama Iwan, pun tidak bisa ditemui karena yang bersangkutan sedang tidak ada di rumah, dan menurut seorang pemuda yang ada dirumah Kepala Desa menjelaskan bahwa Kepala Desa keluar akan tetapi tidak tahu tujuannya sedang kemana.(Hendra Fuana).