Gara-gara Ombak Besar Pengusaha Ikan Asin Bangkrut

      KARAWANG (MGO) –  Sejumlah pengusaha ikan asin ahirnya bangkrut, hal itu terjadi karena ombak laut Jawa sangat besar yang pada ahirnya Nelayan banyak yang tidak melaut sekaligus tidak adanya bahan baku ikan asin.

      Seperti dialami oleh sejumlah pengusaha industri ikan asin diwilayah Ciparagejaya, Kecamatan Tempuran, Karawang, Jawabarat selama lebih dua minggu kesulitan mendapatkan bahan baku yang ahirnya bangkrut.

      Kurangnya bahan baku itu karena nelayan tidak melaut yang disebabkan ombak besar, adapun nelayan yang memaksa melaut namun hasil tangkapan nelayan berkurang. Kondisi tersebut diperparah dengan penurunan permintaan ikan asin dari luar daerah. 

      Perajin pengolahan dan pengerigan ikan asin,Budi, Rabu (01/2) mengatakan, menginjak minggu ketiga , pasokan ikan masih sedikit. karena masih banyak nelayan yang tidak pergi melaut akibat cuaca buruk dan gelombang besar disertai angin kencang.

      "Kapal-kapal besar yang nekat berangkat ke laut sejak satu minggu lalu, hingga saat ini belum banyak yang masuk ke pelabuhan.kalaupun datang hasil yang didapat tidak sebanding dengan mengorbankan seperti kondisi seperti ini." katanya.

      Rata-rata hanya satu atau dua kapal besar yang masuk ke pelabuhan, dengan volume tangkapan sekitar 2 kuintal ikan per kapal. Padahal selama ini, sebagian besar industri pengeringan ikan mengandalkan hasil tangkapan kapal-kapal besar, antara lain jenis ikan layang dan banyar.

      Akibatnya, sebagian industri pengeringan ikan tidak bisa mendapatkan bahan baku. Dari sekitar 5 industri ikan asin, saat ini hanya sekitar 1 industri yang bisa aktif berproduksi. Sebagian dari mereka memanfaatkan pasokan ikan dari kapal-kapal kecil. "Yang lain terpaksa berhenti berproduksi sementara waktu," ujarnya.

      Pekan lalu, Budi [34] juga berproduksi, karena selama satu pekan ia bisa mendapatkan pasokan sekitar 1 samapi 1,5  ton ikan per hari. Namun dalam dua minggu terkahir hanya dua kuintal.

      Rata-rata produksinya sa at ini hanya sekitar 1-2 kuintal, atau hanya 20 persen dari produksi normal, sekitar 1,5 ton per hari. Akibatnya, ia terpaksa mengurangi tenaga kerja tetap dari 10 orang menjadi 4 orang, serta mengurangi tenaga lepas dari sekitar delapan orang menjadi tiga orang.(*).

        • Dibaca: 783 kali

        TCE-Plugin by www.teglo.info

         
                          

        Berita Terbaru

        Kapolsek Purwadadi Pimpin Upacara Hari Pahlawan Kapolsek Purwadadi Pimpin Upacara Hari Pahlawan SUBANG (MGO) - Kapolsek Purwadadi Kab.Subang, Kompol Supratman S.sos memimpin langsung upacara peringatan Hari Pahlawan Nasiona...
        759 Anggota PPS Diambil Sumpah 759 Anggota PPS Diambil Sumpah SUBANG (MGO) – Sebanyak 759 anggota Panitia Pemungutan Suara (PPS) dari 253 desa dan kelurahan di Kabupaten Subang dilant...
        Bupati : Wadah Nelayan PNTI Bupati : Wadah Nelayan PNTI SUBANG (MGO) – Bupati Subang, Imasa Aryumningsih menyatakan nelayan memiliki wadah dan media untuk menyalurkan keluhan se...
        Fungsi BPD Bukan Oposisi Kepala Desa Fungsi BPD Bukan Oposisi Kepala Desa SUBANG (MGO) - Fungsi BPD di Kabupaten Subang bukan merupakan opsisi Kepala Desa (Kades) akan tetapi inovasinya untuk mengelola...
        PT.Saneka Kontraktor Drainase Tertutup Bagi Publik PT.Saneka Kontraktor Drainase Tertutup Bagi Publik PANTURA (MGO) - Kontraktor PT.Saneka yang mengerjakan proyek Drainase Cikampek-Sukamandi terkesan tertutup bagi publik.Pasalnya...