Lagi, TKI Karawang Akan Jalani Hukuman Mati

      Orang tua susanti memperlihatkan pesyaratan anaknya menjadi TKI yang ilegalKARAWANG (MGO) - Susanti binti Mahfudin (22), Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Desa Cikarang, Kecamatan Cilamaya Wetan, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, terancam hukuman mati di Dawadhi, Riyadh, Arab Saudi. Ia dituduh membunuh anak majikannya hingga tewas.

      Menurut Ayah Susanti, Mahfudin (45), saat ini Susanti ditahan di Pihak Kepolisian Dawadhi,Riyadh dan sedang menghadapi proses pengadilan hukuman mati. Susanti berangkat ke Riyadh,Arab Saudi pada Januari 2009 melalui Perusahaan Pengerah Tenaga Kerja Indonesia PJTKI PT Antara Indosadia beralmat di Jakarta.Putri Mahfudin . Anak Pertama itu bekerja pada keluarga Obaid Khalid Al-Ruwani.

      Kata Mahfudin  seharusnya anaknya sudah kembali ke Indonesia pada Januari 2011. Namun, anaknya tertimpa musibah dan harus menghadapi kasus hukum di negara tersebut. Sejak kepergian Susanti menjadi TKI 3 tahun lalu tidak pernah melakukan kontak, saat di tanyakan kepihak perusahaan yang memberangkatkan tidak ada nama anaknya, namun menurut informasi bahwa nama anaknya di dalam pasport dipalsukan dengan nama Sutini Binti Murad berumur 30 tahun.

      Keluraga sontak merasa kaget dengan datangnya surat dari Kemenlu,tertanggal 11 Oktober 2011,nomor 04149/WNI/10/2011/65/yang ditujukan kepada orang tua,bahwa anaknya ditahan pihak kepolisian Dawadhi,Riyad,sedang menghadapi kasus hukuman mati akibat dituduh membunuh anak majikannya.katanya

      sementara,Aktivis Serikat Bru Migran Indonesia Cabang Karawang,Boby Samsul Maarif."dengan kejadian pemalsuan yang dilakukan perusahaan yang memberangkatkan Susanti sehingga umur pada saat berangkat dilebihkan 9-10 tahun sudah non prosedural.

      "Sehingga sangsi terberat bagi perusahaan tersebut harus dicabut serta diproses sesuai hukum,karena ini sudah merupakan pelanggaran saat berangkat susanti baru berumur 19 tahun".katanya.(*).
      6.
      Gadung Bamus BPMKB Kantor PLKB Patokbeusi Molor
      SUBANG (MGO) - Pembangunan gedung Badan Musyawarah BPMKB Subang yang dialokasikan kantor PLKB (Penyuluh Lapangan Keluarga Berencana ) Kecamatan Patokbeusi hingga pergantain tahun 2012 masih belum kelar juga padahal menurut ketentuan yang ada bahwa pembangunan tersebut mesti selsai pada 22 Desember 2011.

      Akibat molornya pembangunan gedung tersebut ahirnya pihak PPK BPMKB Subang memutuskan untuk menunda pembayaran gedung Bamus BPMKB yang dibangun untuk kantor PLKB Patokbeusi. Pihak kontraktor kena hukuman penundaan pembayaran selama 6 bulan kedepan, hukuman tersebut pun guna menjamin kualitas gedung tersebut benar-benar layak huni.

      Kehawatiran tidak layak huni, karen adalam proses pembangunannya gedung tersebut mengalami perubahan fisik bangunan hingga dua kali, yang pertama pernah ambruk bagian tiang pancang beton, kejadian ambruk yang kedua pada bagian atap yang terbuat dari baja ringan.

      Namun kata Kabid PLKB BPMKB Subang, Mohammad Mashudi yang juga sebagai PPK pembangunan gedung Bamus BPMKB yang dibangun di 4 Kecamatan merupakan tanggungjawabnya. Tanggungjawab yang paling berat adalah bangunan PLKB Patokbeusi, sementara 3 bangunan lainnya telah aman dari marabahaya, artinya pada saat pembangunan tidak ada kendala dan telah selesai dibangun dengan mulus.

      “Kegagalan pembangunan 4 gedung yang sama adalah gedung Bamus PLKB Patokbeusi, makanya kotraktor mendapatkan hukuman penundaan pembayaran prestasi pekerjaan hingga 6 bulan lamanya yang sekaligus guna menjamin kualitas gedung tidak akan ada perubahan, atau ambruk,”jelas Mashudi.

      Pantauan Reporter MGO dilokasi kegiatan, hingga kemarin, Senin (2-1-2012) gedung PLKB Patokbeusi masih dalam tahap pengerjaan penyelesaian oleh kontraktor yang belum diketahui identitasnya, capaianya pembangunannya sekira 90 persen, atau masih dalam tahap finishing.

      Dilokasi kegioatan tampak sejumlah pekerja sedang memasang daun pintu dan jendela, dibalik pekerjaannya pekerja menulis sebuah kata kekecewaan karena tenaganya belum dibayar oleh kontraktornya. Tampak disalah satu daun jendela tertulis sebuah tulisan yang di duga di tulis oleh pekerja yang kecewa karena belum dibayar, tulisannya berbunyi "Baray (bayar-red) upah kerja sebelum keringat mengering". Sayangnya ketika sejumlah pekerja ditanya maksud tulisan tersebut tidak ada seorang pun pekerja yang bisa menjelaskan maksud tulisan tersebut.

      Sementara itu kontraktor yang belum diketahui identitasnya belum juga ada nongol dilokasi pekerjaan, sehingga untuk mengkonfirmasikan perihal tersebut Reporter MGO menemui kesulitan, bahkan sejumlah stap PLKB Patokbeusi yang mengetahui nama kontarktor bernama Abuy susah untuk ditemui,  karena sejak berlangsungnya pembangunan gedung yang bersangkutan jarang sekali ke lokasi.(*).

        • Dibaca: 729 kali

        TCE-Plugin by www.teglo.info

         
                          

        Berita Terbaru

        Kapolsek Purwadadi Pimpin Upacara Hari Pahlawan Kapolsek Purwadadi Pimpin Upacara Hari Pahlawan SUBANG (MGO) - Kapolsek Purwadadi Kab.Subang, Kompol Supratman S.sos memimpin langsung upacara peringatan Hari Pahlawan Nasiona...
        759 Anggota PPS Diambil Sumpah 759 Anggota PPS Diambil Sumpah SUBANG (MGO) – Sebanyak 759 anggota Panitia Pemungutan Suara (PPS) dari 253 desa dan kelurahan di Kabupaten Subang dilant...
        Bupati : Wadah Nelayan PNTI Bupati : Wadah Nelayan PNTI SUBANG (MGO) – Bupati Subang, Imasa Aryumningsih menyatakan nelayan memiliki wadah dan media untuk menyalurkan keluhan se...
        Fungsi BPD Bukan Oposisi Kepala Desa Fungsi BPD Bukan Oposisi Kepala Desa SUBANG (MGO) - Fungsi BPD di Kabupaten Subang bukan merupakan opsisi Kepala Desa (Kades) akan tetapi inovasinya untuk mengelola...
        PT.Saneka Kontraktor Drainase Tertutup Bagi Publik PT.Saneka Kontraktor Drainase Tertutup Bagi Publik PANTURA (MGO) - Kontraktor PT.Saneka yang mengerjakan proyek Drainase Cikampek-Sukamandi terkesan tertutup bagi publik.Pasalnya...