Ganas Aplikasikan Amanah TKI Taiwan Bangun Rumah Warga

Normal 0 false false false IN X-NONE X-NONE MicrosoftInternetExplorer4

/* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin-top:0cm; mso-para-margin-right:0cm; mso-para-margin-bottom:10.0pt; mso-para-margin-left:0cm; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:"Calibri","sans-serif"; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; mso-bidi-theme-font:minor-bidi; mso-fareast-language:EN-US;}

SUBANG (MGO) - Sebagai bentuk kepedulian pada Tanah Kelahiran, Gabungan Anak Subang (Ganas) yang bekerja di Negara Taiwan merenovasi rumah warga yang dikategorikan kurang mampu.

Kegiatan peduli tersebut salah satunya membantu renovasi rumah bagi masyarakat yang kurang beruntung. Menurut Penanggung jawab kegiatan, Abdul Aziz pertama kali akan merenovasi rumah Emak Sari (60 tahun) warga Dusun Mesir Tengah RT 06/02 Desa Karangmulya Legonkulon.

Dikatakan Aziz, dirinya memilih Emak Sari karena kehidupannya yang sebatang kara. “Tetapi beliau tidak menyerah. Untuk memenuhi kehidupannya bekerja seadanya. Selain kegiatan renovasi kami juga memberikan santunan kepada anak yatim dan anak putus sekolah,” jelas Azis kepada Reporter MGO di tengah kegiatan renovasi.

Menurut Azis ketika pertama kali bertemu dengan Emak Sari, seorang janda tua tanpa anak yang hidup sebatang kara. Saat itu menyaksikan Emak Sari yang baru pulang mengumpulkan sisa-sisa padi dari sawah yang sedang panen diungkapkan hanya memperoleh 1 liter padi basah. “Gimana gak terenyuh hati saya, Kang,” kata Aziz lagi.

Apalagi melihat tempat tinggalnya yang sangat sederhana dan kurang layak ditinggali. Itu pun merupakan tanah wakaf warga yang besebelahan dengan Posyandu. Dengan segala cara Azis mendapat amanat dari anggota Ganas yang menjadi TKI di Taiwan untuk menyalurkan bantuan, dan tentunya diberikan kepada Emak Sari yang pantas menerimanya. “Sementara Kami diamanahi teman-teman yang berada di Taiwan senilai 4 juta rupiah, Insya Allah program ini akan terus berjalan setiap tiga bulan untuk kegiatan peduli,” jelasnya lagi.(*).

 

Imigran Gelap Teman Kapolda dan KPK Ancam Warga Subang

PANTURA (MGO) – Diduga kuat imigran gelap yang mengaku sebagai teman Kapolda dan teman KPK ancam warga Subang, Minggu (23-11-2014) sekira pukul 09.30 wib.

Yang diduga imigran gelap tersebut bernama Jo Yeonsub berasal dari Soul Korea Selatan mengaku sebagai presiden direktur berkedudukan Permata Ayu Blok D7/No.7 Lippo Karawaci Kelurahan Binong Kabupaten Tanggerang datang ke rumah Harmansyah warga Desa Rancamulya Kec.Patokbeusi Kab.Subang.

Adapun kedatangan Jo kerumah Harmansyah guna menelusuri kegiatan proses investasi yang belum selesai kepengurusan legal formalnya yang diserahkan kepada anak buahnya bernama Mr.Lie yang saat ini ditangani sendiri oleh Mr.Jo karena Mr.Lie sibuk mengurusi pekerjaan lain.

Menurut Harmansyah, bahwa kedatangan Jo yang ketiga kalinya Minggu, 23-11-2014  sekira pukul 09.30 wib. ditemani oleh 4 orang warga Cipeundeuy,namun sangat disayangkan Jo bertamu kerumahnya yang pertama, kedua dan ketiga dengan sikap yang sama, yakni ketika bicara dengan nada tinggi, marah-marah yang terkesan tidak bisa menghargai adat ketimuran. Bahkan Jo sempat mengancam dan menekan Harmansyah dengan mengaku sebagai teman Kapolda, teman KPK dan teman Kompas.

“Mr.Jo setiap kali datang menanyakan anggaran proses perijinan, padahal Saya tidak ada kaitan apa-apa dengan Mr.Jo adapun soal perjanjian kerjasama antara Koperasi dengan Mr.Lie bukan urusan Mr.Jo. Saya juga menyayangkan Mr.Jo berani membentak-bentak istri Saya,”jelas Harmansyah.

Karena Mr.Jo ngotot dan selalu bicaranya dengan nada tinggi, dilanjutkan Harmansyah, bahkan Mr.Jo selalu marah-marah yang pada ahirnya Harmansyah menghubungi Kepala Desa dan Kapolsek Patokbeusi untuk meminta perlindungan hukum sekaligus melaporkan perilaku Mr.Jo yang telah mengganggu ketentraman dan ketenangan keluarga Harmansyah. Namun karena di Polsek Patokbeusi tidak berwenang menangani orang asing sehingga Harmansyah disarankan untuk melaporkan kejadian tersebut ke Polres Subang.

“Saya mengikuti arahan Kapolsek, maka Saya dikawal 2 orang polisi Patokbeusi dan 4 orang pengurus Ormas Gival menuju ke Polres Subang. Kasusnya pun sekarang ditangani oleh pihak Polres Subang,”ucap Harmansyah.

Sedangkan pengakuan Mr. Jo Yeonsub bahwa kedatangannya kerumah Harmansyah telah direncanakan, bahkan Mr.Jo terang-terangan mengaku untuk mendemo Harmansyah.“Saya datang kesini mendapat kuasa dari Mr.Lei yang sedang sibuk dengan pekerjaan lain,”ujar Mr.Jo.

Disayangkan sekali bahwa kedatangan Mr.Jo ke Kabupaten Subang tidak dibekali legalitas yang cukup sebagai imigran. Mr.Jo hanya memperlihatkan Kartu Ijin tempat tinggal terbatas yang dikeluarkan oleh Departemen kehakiman Direktorat Jenderal Imigrasi per tanggal04 Juli 2014. Bahkan ketika ditanya teman dekat Kapolda mana dan petugas KPKnya siapa Mr.Jo tidak bisa menjawab dan tidak bisa menunjukan surat kuasa dari Mr.Lie (*).

 

Humas BBWSC; Proyek Cikijing Uang Koordinasi Diberikan Salah Satu LSM

PANTURA (MGO) – Yang mengaku sebagai Humas Balai Besar Wilayah Citarum (BBWSC) Bandung bahwa pekerjaan proyek normalisasi sungai Citarum di Cikijing Subang telah menempuh sosialisasi dan koordinasi bahkan uang koordinasi telah sampai kepada salah satu LSM.

“Pekerjaan ini telah sosialisasi, koordinasi dengan muspika dan uang koordinasi pun telah diberikan kepada salah satu LSM di Pantura,”ujar Jodi didampingi Sofyan dan Ogi yang mengaku sebagai Humas BBWSC Bandung, Sabtu 1 November 2014 di berada dikantor Direksigit proyek normalisasi sungai Citarum diblok Cikijing Desa Tanjungrasa Kecamatan Patokbeusi, Subang Jawabarat.

Namun ketika ditanya nominal uang koordinasi yang telah diberikan kepada salah satu LSM Pantura,  Jodi tidak mau menjelaskan, juga tidak mau menyebutkan salah satu LSM yang dimaksud, bahkan Jodi ketika ditanya nominal anggaran proyek normalisasi Jodi pun mengaku tidak tahu. Demikian pula dilokasi tidak ada papan proyek, didalan ruangan direksigit tidak ada papan pengumunan yang sehingga sejumlah organisasi dari Ormas Gival, GMBI, X liber, GRIB, LMP, dan LSI tidak mendapatkan informasi mengenai tahapan proses dan teknis pekerjaan tersebut.

“Karena tidak adanya papan proyek, papan pengumuman, juga tidak adanya petugas pelaksana lapangan, dan konsultan pengawas eksternal dan internal sehingga terkesan proyek tersebut proyek siluman,”ujar Adang Sutrisno Kepala Divisi Investigasi dan Data Ormas Gival.

Pun dilanjutkan Adang Sutrisno, sesuai dengan hasil investigasi dimasyarakat bahwa sosialisasi tidak pernah dilakukan oleh pihak terkait, padahal dan semestinya sosialiasi yang melibatkan tokoh/masyarakat, unsur LSM, unsur Desa, unsur Kecamatan, unsur BBWSC dan kontraktornya wajib dilaksanakan.
“Saya harapkan pihak berwenang untuk menghentikan pekerjaan normalisasi tersebut dengan pertimbangan bahwa uang masyarakat wajib dipertanggungjawabkan sesuai dengan aturan yang ada. Apalagi kalau melihat pelaksanaan pekerjaan diduga kuat tidak memenuhi dan mencapai pada tujuan pokok pelaksanaan proyek,”ucap Adang Sutrisno yang akrab dipanggil Entis.

Dipertegas oleh Ketua Umum Ormas Gival, Pirdaus B.Ns. mempertanyakan kredibilitas yang mengaku Humas BBWSC Bandung yang mengaku telah melaksanakan sosialisasi, koordinasi dan bahkan telah memberikan uang koordinasi kepada salah satu LSM di Pantura dengan nilai uang mencapai puluhan juta rupiah.

Menyinggung soal pelaksanaan teknis, bukan saja dilokasi yang baru beberapa hari dilaksanakan, pelaksanaan proyek yang lain atas program BBWSC/PSDA Bandung yang berada di sungai Citarum di titik Pringkasap-Barugbug Purwadadi, di Binong, di Pabuaran, di Blanakan, di Kaliaren Ciasem, Dukuh-Jatibaru Ciasem rata-rata dikeluarkan uang koordinasi yang cukup besar, dibalik itu pekerjaannya sangat buruk sehingga program pembangunan diwilayah sungai yang mana maksud dan tujuan dari proyek tersebut jauh dari harapan, atau tujuan awal dari proyek tidak dilaksanakan sepenuhnya.

“Dari semua pekerjaan tersebut ketika normalisasi sungai lumpur tidak diangkat melainkan ditempatkan dibibir sungai, penguatan tanggul (Bronjong/leaning) dipasang ditanah lembek karena tidak menggunakan kisdam. Untuk itu peran konsultan saat itu tidak berfungsi, karena seringkali tidak ada dilapangan,”tegas Pirdaus yang akrab dipanggil Dauscobra.(*).

 
                  

Berita Terbaru

Kapolsek Purwadadi Pimpin Upacara Hari Pahlawan Kapolsek Purwadadi Pimpin Upacara Hari Pahlawan SUBANG (MGO) - Kapolsek Purwadadi Kab.Subang, Kompol Supratman S.sos memimpin langsung upacara peringatan Hari Pahlawan Nasiona...
759 Anggota PPS Diambil Sumpah 759 Anggota PPS Diambil Sumpah SUBANG (MGO) – Sebanyak 759 anggota Panitia Pemungutan Suara (PPS) dari 253 desa dan kelurahan di Kabupaten Subang dilant...
Bupati : Wadah Nelayan PNTI Bupati : Wadah Nelayan PNTI SUBANG (MGO) – Bupati Subang, Imasa Aryumningsih menyatakan nelayan memiliki wadah dan media untuk menyalurkan keluhan se...
Fungsi BPD Bukan Oposisi Kepala Desa Fungsi BPD Bukan Oposisi Kepala Desa SUBANG (MGO) - Fungsi BPD di Kabupaten Subang bukan merupakan opsisi Kepala Desa (Kades) akan tetapi inovasinya untuk mengelola...
PT.Saneka Kontraktor Drainase Tertutup Bagi Publik PT.Saneka Kontraktor Drainase Tertutup Bagi Publik PANTURA (MGO) - Kontraktor PT.Saneka yang mengerjakan proyek Drainase Cikampek-Sukamandi terkesan tertutup bagi publik.Pasalnya...