Ketum Ormas Gival Sesalkan Sikap Kapolres Subang Yang Terkesan Tuduh Semua LSM Tidak Benar

      altSUBANG (MGO) - Statement Kepala Kepolisian Resort Subang, AKBP Agus Nurpatria terkesan menuduh semua LSM tidak benar. Sedangkan Ketum Ormas Gival sangat tidak suka dengan sikap Kapolres Subang yang terkesan menuduh Ormas Gival LSM abal-abal yang tidak tahu benar dan salah. 

      "Kalau benar Kapolres peduli kepada masyarakat yang menderita karena tanahnya belum dibayar mestinya Kapolres menegak-kan Tupoksinya sebagai pelayan, pengayom dan pelindung masyarakat,"ujar Ketum Ormas Gival Pirdaus B.Ns. akrab dipanggil Dauscobra.

      Kalau Kapolres ngomong, dilanjutkan Dauscobra masyarakat tidak percaya lagi kepada LSM untuk mengurusi warga yang tanahnya belum dibayar, pada kenyataannya Ormas Gival mengantongi Surat Kuasa dari seorang warga Cipeundeuy yang tanahnya belum dibayar diarahkan pada mekanisme konsinyasi, sementara konsinyasi itu sendiri batal demi hukum karena bertabrakan dengan Kitab Undang-undang Hukum Perdata (KUH-Perdata). Adapun Ormas Gival menelusuri kesejumlah tempat warga yang memiliki nasib yang sama hanyalah sebagai bentuk kepedulian organisasi terhadap penderitaan rakyat Kab.Subang yang mana tanah miliknya digusur pasksa tanpa legal formal yang jelas.

      Kalau boleh tahu,  jajaran Mapolres Subang pada tanggal 18 September 2014 turut mendukung penggusuran paksa atas tanah milik warga Kecamatan Cipeundeuy, Kalijati dan warga Cibogo sebagai landasan hukumnya apa, karena yang selama ini surat yang muncul sebagai landasan hukum penggusuran paksa tanah rakyat adalah surat dari PT.Lintas Marga Sedaya (LMS), dan sampai saat ini tidak terlihat legal surat eksekusi dari pengadilan negeri (PN) Subang.

      "Aneh bin ajaib, ormas gival cs. protes hak rakyat malah akan ditendak tegas, sedangkan PT.LMS mencabut dan merampas hak rakyat malah didukung dan diberi pengamanan yang cukup hebat,"ujar Dauscobra.

      Kalau memang, Ditambahkan Dauscobra, masyarakat percaya kepada polisi, dan pengadilan negeri Subang, sebaiknya respon terhadap komplain warga yang tanahnya dihargai sebungkus rokok upet segera urus dan bela warga tersebut. Karena bukti yang ada selama 10 bulan warga gugat konsinyasi sampai sekarang masih gigit jari dan terkesan tidak percaya kepada penegak hukum.

      "Saya harap Kapolres Subang bisa tegak-kan tupoksinya sebagai pelayan, pengayom dan pelindung masyarakat, terutama kepada masyarakat yang tanahnya belum dibayar dengan menegak-kan UU 2 2012 atau Perpres 71 2012,"tambah Dauscobra.

      Dibawah ini kutipan berita di Gala Media tanggal, 4 Juli 2015;

      Kepala Kepolisian Resort Subang, AKBP Agus Nurpatria akan menindak tegas terhadap oknum-oknum pengganggu jalan bebas hambatan jalan Tol Cipali dengan alasan menuntut ganti rugi lahan. Sebab, setelah aparat di Mapolsek dan Koramil turun ke lapangan, ternyata pemilik lahan sudah tidak pernah lagi percaya terhadap oknum tersebut.

      “Memang ada pemberitahuan baik surat maupun lewat media sosial bakal ada penutupan jalan tol pada H-10, setelah ditelusuri sudah ada perubahan cara dan mereka sudah tidak percaya lagi LSM,” kata Kapolres Subang pada saat memberikan paparan pada kesiapan Polres Subang dalam rangka Operasi Ketupat, Jumat (3/7/2015) di Aula Patriatama Mapolres Jalan Mayjen Sutoyo, Subang.

      Kendati demikian, pihaknya terus melakukan pemantauan sesuai perkembangan dan situasi di lapangan. Termasuk mempersiapkan pasukan penindak dari Brimob bila masih tetap melakukan aksinya. Diakui olehnya, hingga kini masih ada permasalahan masyarakat pemilik lahan yang masih bertahan tidak mau menerima uang pengganti di 8 titik. Titik tersebut yaitu di Desa Karangmukti (Kecamatan Cipeundeuy), Marengmang dan Kaliangsana (Kalijati), Jabong (Pagaden), Belendung (Pagaden Barat), Wanasari (Cipunagara), Batusari (Dawuan) dan Sukamelang (Subang), serta Desa Cibogo, Padaasih, Cisaga (Kecamatan Cibogo).

      Tersiar kabar, ada tiga kelompok aktivis bakal blokir jalan Tol Cipali dengan membawa 5 truk bermuatan material batu kali, pasang spanduk 10 meter dan berkemah di jalan Tol Cipeundeuy pada H-10 idul fitri mendatang. Ketiga kelompok tersebut yang tergabung dalam Gabungan Aktivis Subang (GAS), terdiri dari Ormas Gival, LAK. Galuh Pakuan ditambah kelompok pecinta alam Abisatya Subang dan sejumlah penggiat dari mahasiswa Subang bersama 29 keluarga pemilik lahan yang tanahnya belum dibayar.(*).

        • Dibaca: 1060 kali

        TCE-Plugin by www.teglo.info

         
                          

        Berita Terbaru

        Kapolsek Purwadadi Pimpin Upacara Hari Pahlawan Kapolsek Purwadadi Pimpin Upacara Hari Pahlawan SUBANG (MGO) - Kapolsek Purwadadi Kab.Subang, Kompol Supratman S.sos memimpin langsung upacara peringatan Hari Pahlawan Nasiona...
        759 Anggota PPS Diambil Sumpah 759 Anggota PPS Diambil Sumpah SUBANG (MGO) – Sebanyak 759 anggota Panitia Pemungutan Suara (PPS) dari 253 desa dan kelurahan di Kabupaten Subang dilant...
        Bupati : Wadah Nelayan PNTI Bupati : Wadah Nelayan PNTI SUBANG (MGO) – Bupati Subang, Imasa Aryumningsih menyatakan nelayan memiliki wadah dan media untuk menyalurkan keluhan se...
        Fungsi BPD Bukan Oposisi Kepala Desa Fungsi BPD Bukan Oposisi Kepala Desa SUBANG (MGO) - Fungsi BPD di Kabupaten Subang bukan merupakan opsisi Kepala Desa (Kades) akan tetapi inovasinya untuk mengelola...
        PT.Saneka Kontraktor Drainase Tertutup Bagi Publik PT.Saneka Kontraktor Drainase Tertutup Bagi Publik PANTURA (MGO) - Kontraktor PT.Saneka yang mengerjakan proyek Drainase Cikampek-Sukamandi terkesan tertutup bagi publik.Pasalnya...