Petani Blanakan Subang Tanam padi 3 Kali Merugi Rp.10 Juta per Hektar

      SUBANG (MGO) – Tanaman padi di seluas 226 hektar yang telah berumur 50 hari terendam air banjir, kondisi tersebut merupakan kejadian yang ketiga kalinya selama musim tanam penghujan ini. Akibat kejadian itu petani merugi sekira Rp.10 juta per hektarnya.

      Hal tersebut terjadi di sawah blok Kerta Mukti Desa Jayamukti Kecamatan Blanakan Subang Jawa barat, yakni sawah seluas 226 hektar rata-rata telah ditanami padi dalam waktu 50 hari para petani telah menanam padi tiga kali.

      Dijelaskan seorang petani Ratusan Hektar Sawah di Desa Jaya Mukti Kecamatan Blanakan, Subang, Jawabarat, Didin (30) ketika ditanya dilokasi persawahannya mengatakan dirinya beeserta petani lainnya telah merasa lelah karena sawahnya telah berumur sekitar 50 hari, kini kebanjiran lagi, kemungkinan apabila dalam waktu dua pekan ini banjir tidak surut tanaman padi akan mati dan para petani harus melakukan penamanan yang ektiga kalinya.

      “Dimusim penghujan ini sawahnya kebanjiran lagi dan lama kelamaan tanaman padinya akan mati, karena selalu tanam berulang kali hingga saat ini dalam satu hectare sawah telah  mengeluarkan biaya produksi padi mencapai 10 juta rupiah,”jelas Didin.

      Keluhan yang sama diteriakan oleh sejumlah petani lainnya, rata-rata mereka mengklaim bahwa pemda Subang hingga kini belum melakukan upaya pencegahan atau mencarikan solusi agar para petani di Desa Jayamukti dan petani yang ada di Desa tantangga bisa menanam padi dengan tenang tanpa harus melakukan tanam dua hingga tiga kali tanam.

      “Kami mengharapkan perhatian pemerintah bisa condong pada nasib petani, karena persoalan banjir seperti ini hampir setiap tahun terjadi ketika dimusin hujan,”tambah Didin didukung teriakan sejumlah petani yang turut mendampingi Didin.

      Bahkan para petani berharap kepada pemerintah agar bisa membantu mengoptimalkan infrastruktur pertanian, terutama saluran pembuang yang semakin dangkal dan menyempit yang menjadi penyebab banjir berdampak ke sawah mereka. Bahkan para petani lebih berharap bantuan pembangunan fisik dari pada bantuan permodalan, ketika ditanya pilihannya, para petani menjawab keduanya juga perlu namun lebih penting bantuan pembangunan fisik dari pada permodalan produksi pertanian.(*).

        • Dibaca: 866 kali

        TCE-Plugin by www.teglo.info

         
                          

        Berita Terbaru

        Kapolsek Purwadadi Pimpin Upacara Hari Pahlawan Kapolsek Purwadadi Pimpin Upacara Hari Pahlawan SUBANG (MGO) - Kapolsek Purwadadi Kab.Subang, Kompol Supratman S.sos memimpin langsung upacara peringatan Hari Pahlawan Nasiona...
        759 Anggota PPS Diambil Sumpah 759 Anggota PPS Diambil Sumpah SUBANG (MGO) – Sebanyak 759 anggota Panitia Pemungutan Suara (PPS) dari 253 desa dan kelurahan di Kabupaten Subang dilant...
        Bupati : Wadah Nelayan PNTI Bupati : Wadah Nelayan PNTI SUBANG (MGO) – Bupati Subang, Imasa Aryumningsih menyatakan nelayan memiliki wadah dan media untuk menyalurkan keluhan se...
        Fungsi BPD Bukan Oposisi Kepala Desa Fungsi BPD Bukan Oposisi Kepala Desa SUBANG (MGO) - Fungsi BPD di Kabupaten Subang bukan merupakan opsisi Kepala Desa (Kades) akan tetapi inovasinya untuk mengelola...
        PT.Saneka Kontraktor Drainase Tertutup Bagi Publik PT.Saneka Kontraktor Drainase Tertutup Bagi Publik PANTURA (MGO) - Kontraktor PT.Saneka yang mengerjakan proyek Drainase Cikampek-Sukamandi terkesan tertutup bagi publik.Pasalnya...