Dulu Para Penjajah Dimusuhi, Sekarang Ada Penjajah Baru Malah Ditemani

      SUBANG (MGO) – Dulu saat penjajah berada di Kabupaten Subang dimusuhi oleh rakyat dan pemerintah, diperangi oleh sukarelawan dan para pejuang berbaret, diusir dengan perjuangan yang cukup memeras tenaga, memeras otak, memeras harta benda dan bahkan rela mengorbankan jiwa raga.  Sayangnya saat ini adanya sejumlah penjajah modus baru yang datang ke Kabupaten Subang malah didukung oleh sekelompok masayrakat, oknum eksekutif dan bahkan oknum legislatif yang turut serta mendukung dan bahkan turut serta berperan mempasilitasi para penjajah modus baru tersebut.

      garment ptb

      Bedanya dahulu dengan sekarang, dahulu penjajah masuk ke Kabupaten Subang dengan maksud untuk menguasai seluruh tatanan yang ada di Kabupaten Subang baik kepemerintahan, pertanahan, masyarakat, harta benda dan aset-aset lainnya yang dapat menguntungkannya.

      Sementara saat ini penjajah dengan modus baru yang masuk ke Kabupaten Subang salah satunya menguasai sektor pertanian dijadikan lahan industri malah didukung yang pada ahirnya lahan pertanian di Kabupaten Subang semakin lama semakin menyempit berdampak kepada para buruh tani kehilangan mata pencahariannya.

      Lahan pertanian yang dijadikan lahan Industri oleh para investor asing tersebut diantaranya terjadi di daerah Gembor Pagaden Barat dan lahan pertanian yang ada di Bunka Desa Cinangsi, Kec.Cibogo tanah sawah disana berhektar-hektar luasnya ludes dijadikan lahan usaha SPBE. Di Kecamatan Cibogo pun sama sejumlah sawah produktif dijadikan lahan Industri, di Desa Manyeti, Dawuan belasan hektar lahan sawah Industri ludes tergerus kepentingan pabrik garment PT.Daenong Global.

      Mungkin yang terakhir berada di Dusun Kalisumber Desa Ciberes Kecamatan patokbeusi sedang ada proses pembangunan industri, dibangun diatas lahan sawah produktif seluas sekira  4 hektar sedang dalam proses pekerjaann tiang pancang bangunan industri, lebih parahnya aktifitas tersebut sama sekali belum mengantongi perijinan namun aktifitas tersebut terkesan dibiarkan, masyarakat tidak berdaya, pemcam, Kapolsek, Danramil bahkan aparatur pemda Subang terkesan tutup mata tutup telinga adanya aktifitas tersebut.

      Pertanyaannya, lalu siapa yang akan menjadi pejuang untuk mengusir penajajah modus baru yang akan menggerus lahan pertanian sebagai lahan andalan ketahanan pangan nasional dijadikan lahan industri yang belum tentu menjamin kesejahteraan rakyat setempat, karena pada kenyataannya para pekerja, para pedagang dilokasi industri kebanyakan warga pendatang yang menikmatinya.

      Ahirnya, selamat bercokol penjajah modus baru yang menguasai lahan pertanian, kemudian akankah kita akan menjadi menonton yang setia dalam episode penjajah modus baru menguasasi lahan pertanian kita.(*).

       

       

        • Dibaca: 882 kali

        TCE-Plugin by www.teglo.info

         
                          

        Berita Terbaru

        Kapolsek Purwadadi Pimpin Upacara Hari Pahlawan Kapolsek Purwadadi Pimpin Upacara Hari Pahlawan SUBANG (MGO) - Kapolsek Purwadadi Kab.Subang, Kompol Supratman S.sos memimpin langsung upacara peringatan Hari Pahlawan Nasiona...
        759 Anggota PPS Diambil Sumpah 759 Anggota PPS Diambil Sumpah SUBANG (MGO) – Sebanyak 759 anggota Panitia Pemungutan Suara (PPS) dari 253 desa dan kelurahan di Kabupaten Subang dilant...
        Bupati : Wadah Nelayan PNTI Bupati : Wadah Nelayan PNTI SUBANG (MGO) – Bupati Subang, Imasa Aryumningsih menyatakan nelayan memiliki wadah dan media untuk menyalurkan keluhan se...
        Fungsi BPD Bukan Oposisi Kepala Desa Fungsi BPD Bukan Oposisi Kepala Desa SUBANG (MGO) - Fungsi BPD di Kabupaten Subang bukan merupakan opsisi Kepala Desa (Kades) akan tetapi inovasinya untuk mengelola...
        PT.Saneka Kontraktor Drainase Tertutup Bagi Publik PT.Saneka Kontraktor Drainase Tertutup Bagi Publik PANTURA (MGO) - Kontraktor PT.Saneka yang mengerjakan proyek Drainase Cikampek-Sukamandi terkesan tertutup bagi publik.Pasalnya...